AMANAH MENGURUS JANDA
Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan pemerintahan. Dia selalu memikirkan nasib rakyat yang dipimpinnya.
Namun demikian, Khalifah Ali tidak mengetahui ada sebagian kelompok yang tidak merasakan kebijakannya. Dia baru tersadar ketika bertemu seorang wanita tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempayan berisi air.
Khalifah Ali kemudian menghampiri wanita tua itu dan menawarkan bantuan. Si wanita tua itu menerima tawaran yang diberikan tanpa mengetahui siapa yang menawarkan bantuan itu.
"Allah mengirim engkau untuk membantuku. Insya Allah, engkau akan mendapat pahala," kata si wanita tua.
Khalifah Ali kemudian membawakan tempayan itu sampai ke rumah si wanita tua. Sesampai di sana, Khalifah Ali mendapati anak-anak si perempuan tua yang masih kecil. Mereka begitu gembira karena ibunya telah datang.
Melihat kondisi demikian, Khalifah Ali kemudian bertanya, "Di sini jelas tidak ada laki-laki. Ada apa dengan keluargamu?"
Si wanita tua itu menjawab, "Suamiku adalah seorang pejuang. Dia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dan meninggal di sana. Dia meninggalkan saya dan anak-anak saya ini."
Khalifah Ali merasa sedih mendengar jawaban itu. Dia kemudian meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Tetapi, beberapa saat kemudian Khalifah Ali kembali dengan membawa bahan makanan.
"Saya ingin membantumu. Izinkan saya membuat adonan roti, membakarnya, atau menjaga anak-anak," kata Khalifah Ali.
"Semoga Allah meridhaimu," kata si wanita tua. "Biarkan saya yang membuat adonan roti dan membakarnya, karena saya cukup berpengalaman. Sebaiknya, kamu menjaga anak-anak saja," lanjut si wanita tua.
Khalifah Ali kemudian mengambil daging dan membakarnya untuk disuapkan kepada anak-anak itu. Sambil menyuapi anak-anak itu, Khalifah Ali meneteskan air mata.
"Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib atas kejadian yang menimpa kalian. Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib," ucap Khalifah Ali sambil terus menerus menitikkan air mata.
"Adonan sudah selesai. Tolong engkau nyalakan api di tungku itu agar saya dapat membakar adonan ini," kata si wanita tua.
Khalifah Ali bergegas menyalakan api. Dia kemudian mendekatkan wajahnya kepada tungku yang di dalamnya sudah menyala api.
"Rasakan panasnya api. Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda," kata Khalifah Ali.
Tiba-tiba, tetangga si wanita tua itu muncul. Dia begitu kaget melihat pria yang sedang menyalakan tungku. Segera saja dia berkata kepada si wanita tua.
"Celakalah engkau. Tahukah engkau siapa yang engkau perbantukan ini?" tanya si tetangga.
Si wanita tua menjawab, "Saya tidak tahu siapa dia. Ketika mengambil air, dia mendatangiku dan menawarkan bantuan kepadaku."
Tetangga si wanita tua itu tercengang. "Dia adalah Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin," kata si tetangga.
Mendengar jawaban itu, si wanita tua kemudian tertunduk malu. Dia kemudian meminta maaf kepada Khalifah Ali.
"Wahai pria penolong, maafkan saya yang tidak tahu siapa kamu dan memintamu membantuku," ucap si wanita tua.
"Justru seharusnya saya yang meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak menjalankan amanah, tidak mengurusi janda dan anak yatim dengan baik," kata Khalifah Ali.
Setelah itu, Khalifah Ali sering mengunjungi rumah si wanita tua itu. Dia selalu bertanya kabar si wanita tua dan anak-anaknya, sambil memberikan bantuan berupa makanan dan uang sesuai kebutuhan.
Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan pemerintahan. Dia selalu memikirkan nasib rakyat yang dipimpinnya.
Namun demikian, Khalifah Ali tidak mengetahui ada sebagian kelompok yang tidak merasakan kebijakannya. Dia baru tersadar ketika bertemu seorang wanita tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempayan berisi air.
Khalifah Ali kemudian menghampiri wanita tua itu dan menawarkan bantuan. Si wanita tua itu menerima tawaran yang diberikan tanpa mengetahui siapa yang menawarkan bantuan itu.
"Allah mengirim engkau untuk membantuku. Insya Allah, engkau akan mendapat pahala," kata si wanita tua.
Khalifah Ali kemudian membawakan tempayan itu sampai ke rumah si wanita tua. Sesampai di sana, Khalifah Ali mendapati anak-anak si perempuan tua yang masih kecil. Mereka begitu gembira karena ibunya telah datang.
Melihat kondisi demikian, Khalifah Ali kemudian bertanya, "Di sini jelas tidak ada laki-laki. Ada apa dengan keluargamu?"
Si wanita tua itu menjawab, "Suamiku adalah seorang pejuang. Dia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dan meninggal di sana. Dia meninggalkan saya dan anak-anak saya ini."
Khalifah Ali merasa sedih mendengar jawaban itu. Dia kemudian meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Tetapi, beberapa saat kemudian Khalifah Ali kembali dengan membawa bahan makanan.
"Saya ingin membantumu. Izinkan saya membuat adonan roti, membakarnya, atau menjaga anak-anak," kata Khalifah Ali.
"Semoga Allah meridhaimu," kata si wanita tua. "Biarkan saya yang membuat adonan roti dan membakarnya, karena saya cukup berpengalaman. Sebaiknya, kamu menjaga anak-anak saja," lanjut si wanita tua.
Khalifah Ali kemudian mengambil daging dan membakarnya untuk disuapkan kepada anak-anak itu. Sambil menyuapi anak-anak itu, Khalifah Ali meneteskan air mata.
"Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib atas kejadian yang menimpa kalian. Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib," ucap Khalifah Ali sambil terus menerus menitikkan air mata.
"Adonan sudah selesai. Tolong engkau nyalakan api di tungku itu agar saya dapat membakar adonan ini," kata si wanita tua.
Khalifah Ali bergegas menyalakan api. Dia kemudian mendekatkan wajahnya kepada tungku yang di dalamnya sudah menyala api.
"Rasakan panasnya api. Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda," kata Khalifah Ali.
Tiba-tiba, tetangga si wanita tua itu muncul. Dia begitu kaget melihat pria yang sedang menyalakan tungku. Segera saja dia berkata kepada si wanita tua.
"Celakalah engkau. Tahukah engkau siapa yang engkau perbantukan ini?" tanya si tetangga.
Si wanita tua menjawab, "Saya tidak tahu siapa dia. Ketika mengambil air, dia mendatangiku dan menawarkan bantuan kepadaku."
Tetangga si wanita tua itu tercengang. "Dia adalah Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin," kata si tetangga.
Mendengar jawaban itu, si wanita tua kemudian tertunduk malu. Dia kemudian meminta maaf kepada Khalifah Ali.
"Wahai pria penolong, maafkan saya yang tidak tahu siapa kamu dan memintamu membantuku," ucap si wanita tua.
"Justru seharusnya saya yang meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak menjalankan amanah, tidak mengurusi janda dan anak yatim dengan baik," kata Khalifah Ali.
Setelah itu, Khalifah Ali sering mengunjungi rumah si wanita tua itu. Dia selalu bertanya kabar si wanita tua dan anak-anaknya, sambil memberikan bantuan berupa makanan dan uang sesuai kebutuhan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar