Minggu, 21 September 2014

IKHLAS

BELAJAR IKHLAS UNTUK MEMBUAT HIDUP LEBIH BAHAGIA


Salah satu ilmu yang paling sulit dikuasai manusia di muka bumi ini adalah ilmu ikhlas. Ilmu ini banyak diserukan oleh orang, namun tidak semua mampu menguasai secara penuh. Karena tidak nampak, ilmu ikhlas tidak ada hitungannya secara pasti. Yang bisa mengukur ilmu ini adalah hati masing-masing individu yang memiliki dan menggunakan ilmu ini, itupun belum tentu 100% pas. Hanya Tuhan yang paling benar mengukur keikhlasan seseorang.

Senyum Ikhlas Ada perbedaan mendasar antara ikhlas dan pasrah. Ikhlas adalah menyerah setelah berusaha, sedang pasrah adalah menyerah sebelum berusaha. Kata pak Ustadz, Ikhlas itu gandengannya Sabar dan Tawakkal, sedangkan Pasrah sama Ngalah. laughing (versi orang jawa: pasrah ngalah). Keikhlasan memang perlu dikembangkan dewasa ini. Tau nggak, gara-gara nggak ikhlas, Iblis melakukan dosa pertama di alam semesta. Dia kan nggak ikhlas memiliki “saingan” bernama Adam dari tanah yang notabene menurut dia lebih tidak berharga tapi harus dihormati. Maka tampaklah sifat sombongnya dikarenakan Iblis nggak ikhlas. Nah, keadaan ini hampir sama di masyarakat kita. Kalah dalam pemilihan RT, nggak ikhlas lantas mengerahkan masa buat demo. Tetangga lebih mampu, nggak ikhlas lalu dengki. Dan masih banyak hal lainnya.

Menurut aku, ikhlas bisa dicapai dengan cara berikut ini:

Bersyukur.

- Banyak-banyaklah bersyukur, jangan berputus asa atas nikmatNya. Ingatlah bahwa nikmat yang diberikan pada kita lebih banyak daripada derita (kalo boleh dibilang begitu) yang diberikan kepada kita. Syukuri apa yang masih ada pada diri kita seperti kesehatan, teman, keluarga dan harta (meskipun sedikit/kurang) karena masih ada yang lebih kurang dari kita. So, be gratefull!


Merubah pola pikir.

- Berpikirlah bahwa hidup kita ini hanya sementara dan harus dijalani dengan penuh arti. Nggak peduli berapa umur yang kita punyai, yang pasti kita harus menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar kita. Asal orang lain senang, kita juga senang. Tapi bukan berarti berkorban buta lho.


Menyadari titipan.

- Berhubungan dengan yang kedua. Jika kita sadar bahwa semua itu sementara, kita juga akan menyadari bahwa semua yang ada pada diri kita adalah titipan. Harta, keluarga dan jabatan hanyalah amanah dari Tuhan. Jadi mesti kita jaga amanah itu dengan sebaik-baiknya. Tuhan menyukai mereka-mereka yang mencintai amanahnya, bukan harta atau jabatannya.


Membesarkan hati.

-Hibur diri kita sendiri dengan sesuatu yang baik. Katakan pada diri kita sendiri, sesuatu yang bisa membangkitkan semangat dan motivasi diri. Misalnya, “Ah, pasti ada yang lebih besar menanti di depan sana,” dan lain-lain. Setidaknya, bisa memberikan semangat untuk menjalani hidup selanjutnya.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa membuat kita lebih ikhlas. Yang pasti, keikhlasan dimulai dari hati. Hati yang ikhlas akan membuat hidup lebih tenang dan bahagia. Mengeluh hanya akan menambah derita, tidak akan mengurangi penderitaan. Ga percaya? Coba aja sendiri.

JANDA

AMANAH MENGURUS JANDA


Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan pemerintahan. Dia selalu memikirkan nasib rakyat yang dipimpinnya.

Namun demikian, Khalifah Ali tidak mengetahui ada sebagian kelompok yang tidak merasakan kebijakannya. Dia baru tersadar ketika bertemu seorang wanita tua dengan fisik yang lemah sedang mengangkat tempayan berisi air.

Khalifah Ali kemudian menghampiri wanita tua itu dan menawarkan bantuan. Si wanita tua itu menerima tawaran yang diberikan tanpa mengetahui siapa yang menawarkan bantuan itu.

"Allah mengirim engkau untuk membantuku. Insya Allah, engkau akan mendapat pahala," kata si wanita tua.

Khalifah Ali kemudian membawakan tempayan itu sampai ke rumah si wanita tua. Sesampai di sana, Khalifah Ali mendapati anak-anak si perempuan tua yang masih kecil. Mereka begitu gembira karena ibunya telah datang. 

Melihat kondisi demikian, Khalifah Ali kemudian bertanya, "Di sini jelas tidak ada laki-laki. Ada apa dengan keluargamu?"

Si wanita tua itu menjawab, "Suamiku adalah seorang pejuang. Dia berperang bersama Ali bin Abi Thalib dan meninggal di sana. Dia meninggalkan saya dan anak-anak saya ini."

Khalifah Ali merasa sedih mendengar jawaban itu. Dia kemudian meminta diri untuk meninggalkan rumah itu. Tetapi, beberapa saat kemudian Khalifah Ali kembali dengan membawa bahan makanan.

"Saya ingin membantumu. Izinkan saya membuat adonan roti, membakarnya, atau menjaga anak-anak," kata Khalifah Ali.

"Semoga Allah meridhaimu," kata si wanita tua. "Biarkan saya yang membuat adonan roti dan membakarnya, karena saya cukup berpengalaman. Sebaiknya, kamu menjaga anak-anak saja," lanjut si wanita tua.

Khalifah Ali kemudian mengambil daging dan membakarnya untuk disuapkan kepada anak-anak itu. Sambil menyuapi anak-anak itu, Khalifah Ali meneteskan air mata.

"Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib atas kejadian yang menimpa kalian. Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib," ucap Khalifah Ali sambil terus menerus menitikkan air mata.

"Adonan sudah selesai. Tolong engkau nyalakan api di tungku itu agar saya dapat membakar adonan ini," kata si wanita tua.

Khalifah Ali bergegas menyalakan api. Dia kemudian mendekatkan wajahnya kepada tungku yang di dalamnya sudah menyala api.

"Rasakan panasnya api. Inilah balasan orang yang tidak mengurusi anak-anak yatim dengan baik dan tidak tahu kondisi para wanita yang menjanda," kata Khalifah Ali.

Tiba-tiba, tetangga si wanita tua itu muncul. Dia begitu kaget melihat pria yang sedang menyalakan tungku. Segera saja dia berkata kepada si wanita tua.

"Celakalah engkau. Tahukah engkau siapa yang engkau perbantukan ini?" tanya si tetangga.

Si wanita tua menjawab, "Saya tidak tahu siapa dia. Ketika mengambil air, dia mendatangiku dan menawarkan bantuan kepadaku."

Tetangga si wanita tua itu tercengang. "Dia adalah Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin," kata si tetangga.

Mendengar jawaban itu, si wanita tua kemudian tertunduk malu. Dia kemudian meminta maaf kepada Khalifah Ali.

"Wahai pria penolong, maafkan saya yang tidak tahu siapa kamu dan memintamu membantuku," ucap si wanita tua.

"Justru seharusnya saya yang meminta maaf kepadamu. Karena saya tidak menjalankan amanah, tidak mengurusi janda dan anak yatim dengan baik," kata Khalifah Ali.

Setelah itu, Khalifah Ali sering mengunjungi rumah si wanita tua itu. Dia selalu bertanya kabar si wanita tua dan anak-anaknya, sambil memberikan bantuan berupa makanan dan uang sesuai kebutuhan.